Kamu yang pernah menginap di Era Kish sebelum 2025 pasti ingat. Kolam renang megah yang langsung menghadap laut. Lobi yang selalu ramai. Dan… interior kamar yang mulai terlihat ‘kelelahan’, kan? Katakan saja. Kita semua pernah merasakan keajaiban dan keusangannya bersamaan.
Nah, mereka tutup hampir setahun untuk renovasi total. Dengan klaim jadi ‘Istana di Laut’ yang lebih gagah lagi. Tapi beneran nggak, sih? Atau cuma polesan cat baru di atas fondasi lama? Gue baru aja pulang dari sana. Dan ini review jujurnya. Bukan dari brosur, tapi dari pengalaman tidur, makan, dan berjalan di koridornya yang (katanya) baru.
Investigasi 2025: Janji vs. Realita di Tiga Titik Krusial
Mari kita uji klaim mereka dengan bukti lapangan. Bukan omongan marketing.
1. Kamar “Superior Sea View” yang Diklaim “All-New”.
Ini intinya. Mereka bilang semua kamar dirombak total. Hasilnya? Memang ada upgrade. TV lebih gede, smart TV pula. Colokan USB ada di mana-mana. Tapi, nuansanya… masih itu. Sofa dekat jendela modelnya beda, tapi tekstur kainnya masih bikin panas. Dan balkonnya—masih kecil banget! Cuma muat satu kursi. Untuk sebuah resort mewah di Kepulauan Seribu yang jual view, ini agak mengecewakan. Seperti baju baru, tapi potongan lama.
2. Area Kolam Renang & Beach Club yang Diperluas.
Nah, ini dia yang memang worth it. Area kolam renang utama mereka sebenernya udah oke dari dulu. Tapi sekarang, mereka bikin zoning yang lebih pinter. Ada zona sunbed untuk keluarga, ada quiet pool untuk yang mau tenang. Beach club-nya sekarang lebih hidup, dengan DJ di weekend. Tapi, konsekuensinya? Untuk dapat sunbed prime di pinggir kolam, kamu harus ngantri dari pagi. Old habit dies hard, rupanya.
3. Restoran “Lautan” dengan Konsep All-New Dining.
Mereka ganti beberapa restulan. Yang paling gembar-gembor: restoran seafood tepi pantai dengan konsep market-to-table. Idenya keren. Realitanya? Variasi hidangan lautnya memang segar, tapi antriannya panjang—rata-rata 45 menit pas dinner time. Padahal, kamu bayar untuk kemewahan, bukan untuk antri kayak di foodcourt. Service recovery-nya sih cepat; mereka kasih complimentary drinks sambil nunggu. Tapi tetap aja, gap antara ekspektasi “istana” dan realita antrian itu terasa.
Kesalahan yang Masih Sama (dan Tips Jitu Hindarin)
Renovasi gedung, tapi mentalitas layanan kayaknya perlu renovasi juga. Beberapa hal yang masih nyebelin:
- Check-in yang Tetap Bertele-tele. Meski lobi baru kinclong, prosesnya tetap lama. Apalagi kalau datang pas jam sibuk (antara 2-4 sore). Tip jitu: Manfaatkan online check-in jika ada, atau datang di luar jam itu. Serius, selisih satu jam bisa hemat 30 menit ngantri.
- Masalah “Kebisingan” Koridor. Kamar baru, tapi dinding kayaknya masih tipis. Gue masih bisa dengar obrolan tetangga kamar. Tip jitu: Minta kamar di ujung koridor. Lebih sepi, view seringkali lebih bagus, dan minim lalu lalang.
- Harga “Istana” untuk Minibar. Ini sih klasik. Snack dan minuman di minibar harganya bikin mata melotot. Tip jitu: Manfaatkan aja water dispenser di lobi atau beli ke mini market kecil di dekat dermaga. Lebih murah sampai 70%.
Jadi, Masih Layak Ga Sih Gelar “Istana di Laut”?
Setelah semua diuji: layar TV lebih cerdas, kolam lebih teratur, tapi antrian tetap ada dan dinding masih tipis.
Era Kish 2025 itu seperti berlian yang sudah dipoles ulang. Kilaunya lebih terang, lebih modern. Tapi inklusinya—masih ada yang kasar. Mereka berhasil memperbarui fasilitas premium di Jakarta, tapi belum sepenuhnya memperbarui experience-nya menjadi benar-benar royal.
Kalau kamu mencari hotel mewah di Kepulauan Seribu dengan fasilitas terbaru dan view laut yang tak terbantahkan, iya, dia masih jawabannya. Tapi kalau kamu mencari ketenangan istana yang sepi dan servis yang flawless tanpa kerumitan? Mungkin masih ada gap kecil antara janji dan realita.
Intinya: dia tetap hotel mewah di Kepulauan Seribu yang iconic. Cuma, mungkin kini lebih tepat disebut “Istana yang Sangat Sibuk di Laut”.